Anak Melakukan Kekerasan Psikis

07 November 2011, 07:36, dibaca 1981 kali
Share |

Kasus:

Yang terhormat pengasuh. Saya ingin menanyakan tentang masalah hukum yang sebenarnya dialami oleh orang lain, akan tetapi saya pernah menjadi tempat "curhat" yang bersangkutan/orang tersebut. Adapun permasalahannya adalah sebagai berikut: Sebut saja T berusia hampir 60 tahun, adalah ibu kandung dari seorang wanita yang bernama X. Saat ini T hidup bersama dengan anaknya X tersebut, namun rumah tersebut adalah rumah T. Setelah menikah, karena suami X belum punya rumah sendiri dan dari pada kontrak rumah, maka X beserta suaminya tinggal bersama T tersebut. Dalam perkembangannya, rumah tangga X setelah kurang lebih lima tahunan ternyata belum juga dikaruniai seorang anak, hal tersebut kemudian menyebabkan X berhubungan dengan mantan Pacarnya.

Hubungan X dengan mantan pacarnya tersebut dilandasi anggapan X pada suaminya, bahwa suaminya tersebut mandul. Padahal Dokter yang memeriksa keduanya telah memberikan informasi bahwa X dan suaminya sama-sama tidak mandul (normal). Perselingkuhan yang dilakukan X tersebut sering dilakukan di rumah (rumah T), hal ini mungkin karena suaminya memang sering dinas ke luar kota. Akan tetapi, T seringkali menegur X tentang Perbuatan jeleknya tersebut. Akan tetapi, X selalu dan selalu tidak menggubris dan bahkan tidak menghiraukannya, sehingga hal tersebut membuat T mengalami depresi, mengalami tekanan mental yang hebat (jiwa/psikis). T tidak menghendaki rumahnya dijadikan tempat untuk melakukan perbuatan yang tidak senonoh dan tentunya tidak menghendaki pula anaknya mempunyai moral bejat.Yang ingin saya tanyakan adalah, apakah kondisi yang dialami T tersebut dapat juga dikategorikan sebagai hal-hal yang diatur dalam aturan tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga.? Terimakasih atas jawabannya.

Dari SR di Purworejo


Jawab:

Yth, Sdr SR, terima kasih atas partisipasinya. Kami sangat bangga dengan Saudari yang ternyata mempunyai sikap kepedulian terhadap kondisi yang dialami oleh orang lain, yang akhirnya Saudari respon melalui Rubrik ini. Semoga uraian kami dapat membantu Anda dan Ny. T.

Perlu kami sampaikan terlebih dahulu kepada Anda pengertian kekerasan dalam rumah tangga, yaitu setiap perbuatan terhadap seseorang terutama Perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan atau Perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

Sedangkan lingkup rumah tangga yang dimaksudkan dalam UU Nomor 23 Tahun 2004 adalah suami, isteri dan anak; orang-orang yang mempunyai hubungan kekeluargaan dengan suami isteri dan anak, karena hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan dan perwalian, yang menetap dalam rumah tangga dan atau orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut. Sedangkan yang dimaksud dengan kekerasan psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang. Dengan demikian, jika memang T nyata-nyata telah menderita sakit akibat adanya kekerasan psikis disebabkan tindakan X, maka dapat saja ia dilaporkan karena telah melanggar ketentuan yang ada dalam UU Nomor 23 Tahun 2004 dan ancaman hukuman bagi orang yang melakukan perbuatan kekerasan psikis dalam lingkup rumaha tangga adalah dipidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp 9.000.000,00 (sembilan juta rupiah) /pasar 45 UU Nomor 23 Tahun 2004. Perlu Anda ketahui bahwa, dalam UU pengahapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga telah diatur keterangan seorang saksi korban saja sudah cukup untuk membuktikan bahwa terdakwah bersalah apabila disertai dengan satu alat bukti yang sah lainnya.

Sumber:
TIM IKADIN YOGYA (Teguh Sri Rahardjo – Winarno - Abd. Muin Dj - Finarto) BUKU PINTAR HUKUM “Stragtegi Praktis Menyelesaikan Masalah-masalah Hukum” Cetakan ke-2, Januari 2007, UII PRESS YOGYAKARTA.



Komentar:

15 Mei 2013, 13:34
car insurance quotes:
Dear Ping,I miss Taiwan already I think having grown up in Canada but have the love for Asia, that is why I chose Taiwan and Taichung in particular during my initial stay. Sapporo would have been my other choice I am on the verge of making a somewhat big decision, I love to create and love food ever since I was a child. I picked playing kitchen over barbie dolls LoL … During my time in Taiwan, I had the chance to get back in touch with my creative roots in arts, photography and food. As one of my mentor from Theatre said to me before I left for Taiwan: “You are so pregnant with creativity, and you are ready to pop.” And I believe in Taiwan is where I “pop” and now just finding how to nourish it.I am in the midst of thoughts of doing a small startup business in Taiwan…hoping to use my love for creativity and food, combined with my versatile background to be able to bring happiness and positivity to people. That is my dream.So, I am on the verge of making a leap into that road of starting something small in Taiwan…though it seems to be not as simple for foreigners to start up a business in Taiwan….certain rules that government requires seemed a bit tough to meet for a startup.Thank you Ping for your reply, I always find your replies encouraging and soothing in ways.Please Take Care I am hoping to be back to Taiwan soon.Serena

Send Your Comment:

grinLOLcheesesmilewinksmirkrolleyesconfused
surprisedbig surprisetongue laughtongue rolleyetongue winkraspberryblank starelong face
ohhgrrrgulpoh ohdownerred facesickshut eye
hmmmmadangryzipperkissshockcool smilecool smirk
cool grincool hmmcool madcool cheesevampiresnakeexcaimquestion